Powered by Blogger.

Popular Posts Today

Catut Umur, 17 Atlet Dipulangkan

Written By Unknown on Monday, August 19, 2013 | 10:07 AM





NEW DELHI, Kompas.com - Sebanyak 17 atlet asal India dipulangkan dari arena Asian Youth Games II 2013 di Nanjing, China karena terbukti memalsukan usia mereka.

Tujuh belas atlet tersebut yang berasal dari cabang atletik dipulangkan karena ternyata berusia di atas 17 tahun yang merupakan batas maksimal usia peserta  AYG II/2013.

Peristiwa ini jelas mencoreng muka otoritas olah raga India. "Hal ini seharusnya tidak terjadi.  Kami akan melihat alasan peristiwa ini," kata Vijay Kumar Malhotra  dari asosiasi olimpik India, Senin (19/8).

Dua hari sebelumnya, empat atlket bulu tangkis India juga dilarang bertanding di ajang AYG II karena nama mereka tidak terdaftar dalam kompetisi.

Para atlet muda India ini bertanding di Nanjing atas nama "Independen" karena India dilarang mengikuti kejauraan yang berada di bawah pengawasan Komite Olimpik Internasional (IOC) akibat kasus korupsi yang menimpa organisasi olah raga negara tersebut.

Meski begitu, para atlet ini diseleksi oleh federasi atletik India (AFI) dan disetujui oleh otoritas Olah raga India (SAI). Pimpinan SAI, Jiji Thomson menimpakan kesalahan pada pihak AFI.

"Kami tidak mungkin mempertanyakan daftar (atlet) yang diberikan sebuah federasi olah raga," kata Thomson. "Sepenuhnya itu menjadi tanggungjawab dari federasi untuk memilih tim."




Editor : Tjahjo Sasongko















10:07 AM | 0 komentar | Read More

Pemuda Kampung Bali Dilatih Servis Ponsel





JAKARTA, KOMPAS.com - Sebanyak 30 pemuda di Kampung Bali, Tanah Abang, Jakarta Pusat, yang belum mendapatkan pekerjaan memperoleh pelatihan servis telepon seluler (ponsel) dari Badan Narkotika Nasional (BNN).

Direktur Pemberdayaan Alternatif BNN, Ruspen Sitinjak mengatakan, salah satu upaya BNN untuk menangkal masuknya narkoba ke Indonesia ialah dengan membekali warga dengan keterampilan.

“Jika seluruh masyarakat memiliki kegiatan yang bermanfaat, saya percaya narkoba tidak akan laku,” ujar Ruspen, Senin (19/8/2013).

Karena itu, kata Ruspen, program pemberdayaan masyarakat ini akan terus dimonitor dengan menyediakan konter ponsel untuk jual beli pulsa dan servis ponsel.

"Jika sudah berhasil diharapkan warga yang sudah diberi pelatihan bisa mengajak teman ataupun saudaranya untuk melakukan hal yang sama. Kita terus memonitor, sehingga para pemuda yang sudah dibekali keterampilan akan memiliki motivasi lagi,” terangnya.

Asisten Kesejahteraan Masyarakat (Askesmas) Jakarta Pusat, Ruslan mengaku sangat mengapresiasi kegiatan yang telah dilakukan BNN. Menurutnya, ini merupakan program positif yang sejalan dengan program Pemerintah Kota Jakarta Pusat.

"Diharapkan pendapatan masyarakat Kampung Bali bisa meningkat. Sebagai pemerintah memang merupakan tanggung jawab kita bersama untuk mewujudkan masyarakat yang lebih baik. Jika BNN punya kegiatan ini, kita juga memiliki balai latihan kerja,” tuturnya.

Seorang peserta pelatihan, Pungki (38), mengatakan, hal tersulit dari mantan pengguna adalah menghilangkan sugesti. Untuk itu, rangkulan dari berbagai pihak menjadi sesuatu yang sangat berharga.

“Ketika sudah tidak menggunakan narkoba, mereka akan ingat saat lewat di kawasan tempat mereka membeli narkoba beberapa tahun yang lalu. Karena itu, pelatihan seperti ini sangat bagus untuk mantan pengguna narkoba," tuturnya.




Editor : Tjatur Wiharyo
















10:05 AM | 0 komentar | Read More

"Saya Diutus Menyebarkan Keindahan"

Written By Unknown on Sunday, August 18, 2013 | 10:49 AM


”Merdeka! Halo, dengan siapa ini?” begitu tanya seseorang dari seberang telepon pada suatu hari. Pemilik suara tersebut adalah Christoforus Soebiantoro (75) atau yang populer dikenal dengan nama Kris Biantoro. Siapa pun yang meneleponnya, dia akan selalu sapa dengan pekik merdeka!


”Kita harus menjadi manusia merdeka dan mengingatkan orang lain untuk jadi manusia merdeka juga,” ungkap Mas Kris, demikian ia biasa disapa.


Namun sejak 13 Agustus 2013, pekik merdeka itu tidak akan pernah lagi keluar dari mulut Mas Kris. Pedendang lagu Mungkinkah itu mengembuskan napas terakhirnya pada pukul 13.30 WIB, setelah memandangi burung perkutut di rumahnya yang artistik nan asri di Kompleks Bukit Permai, Jalan Bromo Blok K/8, Cibubur.


Dia adalah anak ke-8 dari 11 bersaudara buah cinta Warsid Sastrowiardjo dan Soekarsih yang lahir di era perjuangan kemerdekaan Indonesia. Maka, tak heran dia memiliki rasa nasionalisme yang tinggi dan punya semangat terus berjuang pantang menyerah. Kerasnya zaman penjajahan, kekejaman perang, kesulitan ekonomi dalam melanjutkan pendidikan dan perjuangan bertahan hidup di negeri orang, hingga penghinaan, prasangka, dan perlakuan tidak adil, silih berganti ia alami. Namun itu tidak membuatnya gentar, lalu mundur dari jalur seni.


Ketika ditanya hal yang paling menggelisahkan hatinya saat ini, pria kelahiran 17 Maret 1938 itu menyebut perilaku korupsi yang telah merasuki bangsa ini. Perilaku itu telah memiskinkan bangsa yang kaya raya ini. Karena itu, saat merayakan ulang tahun ke-70 pada 2007, ia menyelenggarakan kirab sepeda onthel dari Tugu Monas menuju Gedung Perumusan Naskah Proklamasi di Jalan Imam Bonjol 1, Jakarta Pusat. Saat itu ia mengumumkan perlawanan terhadap korupsi. Dengan menumpang mobil kuno bak terbuka, dia “dikawal” 200 pengendara sepeda onthel. Dalam balutan seragam tentara Peta warna hijau lengkap dengan atributnya, Kris tampak segar dan ceria.


90 Km Tiap Hari
Karena pertimbangan kesehatan, saat itu Kris tidak mengendarai sepeda. Namun yang pasti, bersepeda sama sekali bukan pengalaman baru atau aneh baginya. Justru mungkin pengalamannya dalam bersepeda merupakan sesuatu yang aneh bagi orang lain. Terbayangkah seseorang yang menempuh jarak sekitar 90 kilometer setiap hari dengan sepeda selama tiga tahun? Itulah pengalaman suami dari Maria Nguyem Kim Dung ini.


Kris adalah pria asal Magelang dan orangtuanya tinggal di sana. Tapi setelah tamat SMP dia mendapat kesempatan melanjutkan pendidikan di SMA de Britto, Yogyakarta, yang jaraknya sekitar 45 kilometer dari rumahnya. Bisa saja ia ngekos di Yogyakarta, tapi hal ini mustahil baginya, sebab keadaan ekonomi keluarganya tidak memungkinkan. Maklum dia memiliki 11 saudara yang juga butuh biaya, ditambah lagi saat itu perekonomian negara tengah morat-marit. Jalan satu-satunya adalah pergi-pulang (ngelaju) Magelang-Yogya. Uniknya, perjalanan sepanjang 90 kilometer yang melelahkan itu ia tundukkan selama tiga tahun hanya dengan sebuah “sepeda perempuan”.


Tiap pagi Kris harus berangkat dari rumah tepat pukul 04.00 WIB agar bisa tiba di sekolah tepat waktu. “Telat sedikit saja berangkatnya saya pasti lambat masuk kelas sebab jalur kereta api di Jalan Malioboro tertutup selama 15 menit karena ada kereta yang lewat." kenang Kris. Itu artinya dia harus siap di-straf (dihukum, Red) di sekolah. Lalu kalau sering terlambat bisa jadi tidak naik kelas.


Suatu pagi ketika hendak melewati jalan di depan Seminari Mertoyudan, Kecamatan Mertoyudan, Magelang, dari kejauhan secara samar-samar Kris melihat “sosok” tinggi-besar. Sosok itu sontak membuatnya ketakutan, sebab dia mengira itu genderuwo. Dia berhenti dan berencana menunggu hari agak terang baru meneruskan perjalanan. Tapi itu berarti dia akan terlambat sampai di sekolah.


Dibayang-bayangi oleh keterlambatan, dia langsung ingat sosok bruder, guru bahasa Prancis di sekolahnya. Sang bruder terkenal galak dan disiplin. Ternyata ketakutannya pada sang guru bahasa Prancisnya mengalahkan ketakutan Kris pada genderuwo. Dia lalu mengumpulkan keberanian dan segera meluncur cepat-cepat dengan sepeda. Ternyata sosok yang dia kira genderuwo itu hanyalah “kepang”, yang dibuat dari gedek untuk menjemur tembakau.


Tanggung Jawab Artis
Saat ditanya hal yang ia pikirkan sehubungan dengan dunia hiburan kini, ia menjawab,"Saya ingin penyanyi saat ini juga mengerti sejarah musik Indonesia dan sekaligus memperkenalkan sejarah musik Indonesia pada generasi muda saat ini."


Kris mengaku sangat prihatin melihat para pencipta lagu, seperti Ismail Marzuki, Bing Slamet, dan Soetedjo, yang pernah menghasilkan lagu dan lirik yang sangat indah ternyata dilupakan. "Bangsa ini tercipta karena ada mata rantai sejarah yang tidak boleh putus. Segala sesuatunya pasti ada sejarahnya. Demikian pula saya tidak mau melupakan jasa besar dari para pencipta lagu yang mulai dilupakan itu. Saya bisa seperti sekarang karena mereka," ujar pemilik album Mungkinkah dan Juwita Malam ini.


Kris mengungkapkan, menjadi artis tidak hanya sekadar menyanyi atau mahir tampil di atas panggung. Artis juga harus memiliki tanggung jawab untuk memberi contoh positif pada masyarakat dan tidak terjebak dalam kehidupan hedonis seperti yang sering muncul di televisi.


"Celakanya banyak artis yang tidak peduli lagi pada sejarah, terutama sejarah musik Indonesia. Kalau menyanyi, ya menyanyi saja, tidak mengerti bagaimana lagu itu diciptakan, tidak menghayati, dan tidak tahu siapa yang menciptakan lagunya," kata Kris.


Apakah Kris lantas menyalahkan kaum muda? “Saya tidak menyalahkan kaum muda. Kalau saya muda pada zaman ini, saya akan begitu juga. Itu artinya ada yang salah urus terhadap bangsa dan generasinya,” ungkap Kris.


Di jagat hiburan Tanah Air Kris adalah salah satu kampiun. Dia selalu berusaha melakukan yang terbaik. Meski begitu, hasil kerja keras dan pengabdiannya yang maksimal banyak kali tidak dihargai secara setimpal. Ia pernah mengalami pemecatan di KBRI Australia karena isu murahan. Ia dicap komunis karena menikahi gadis Vietnam. Lalu di TVRI, tanpa alasan yang jelas, dia juga mengalami pemecatan.


Di TVRI juga ia mengalami perlakuan yang menyakitkan. Suatu kesempatan, seorang pimpinan televisi milik pemerintah itu menarik dengan paksa kalung salib di lehernya sampai putus. Sang pimpinan itu tidak suka melihat pencipta dan pendendang lagu Dondong Opo Salak ini mengenakan salib. “Kalau diminta baik-baik untuk tidak mengenakan salib saat syuting, toh saya tidak apa-apa,” tulis Kris dalam buku autobiografinya Manisnya Ditolak di halaman 190.


Pada zamannya, Kris sungguh menjadi bintang yang dielu-elukan meski tidak jarang juga dilecehkan. Selain Kris adalah penyanyi, dia juga MC termahal, bintang iklan laris, dan pemain serta sutradara film. Sebut saja beberapa film yang ia bintangi: Laki-laki Pilihan, Jagoan Tengik, Si Manis Jembatan Ancol, Bulan di Atas Kuburan, dan Last Tango in Jakarta. Sedangkan di bidang rekaman ia telah melahirkan sangat banyak album. Berapa albumnya? “Ini memalukan, saya tidak hafal jumlah album saya,” ujarnya terkekeh.


Tugas Menyebarkan Keindahan
Sebagai seorang seniman, dalam berkesenian pria yang pernah meraih Lifetime Achievement Award dari Panasonic ini berprinsip para artis, termasuk dirinya, adalah kelompok manusia yang diutus Tuhan untuk menyebarkan keindahanNya. Karena prinsip ini, ia mengaku tidak pernah neko-neko alias hanya menempuh jalan lurus.


Menurut Kris, setiap murid Kristus diutus ke dunia untuk menyebarkan kebenaran, kebaikan dan keindahan. ”Konon saya diutus ke bagian menyebarkan keindahan. Saya bisa menari, membuat film, menyanyi, berbicara, menulis. Itu semua datangnya dari Tuhan. Jadi, kalau menjadi artis hanya untuk membuktikan diri ini mampu, bisa kawin-cerai, bisa terkenal, pasti bukan itu maunya Tuhan. Menjadi artis terkenal sebenarnya bisa menjadi bagian yang ampuh dalam menyebarkan kebaikan. Kita tak cukup hanya berdoa saja, harus ora et labora. Kalau hanya berdoa saja, tidak ada artinya, berbuatlah sesuatu!” kata penulis buku Belum Selesai: Kisah 38 Tahun Perjuangan Pendekar Ginjal Soak ini.


Buku itu berkisah tentang pengalaman Kris dalam menjalani hidup sebagai penderita gagal ginjal selama 38 tahun. Sampai penghujung hidupnya, secara rutin Mas Kris menjalani cuci darah setiap minggu.


Kris Biantoro telah kembali kepada penciptaNya. Jeep kesayangannya yang biasa ditumpangi saat ke gereja tak akan pernah lagi ia pakai. Perjalanannya ke rumah Sang Khalik tentu ia tempuh menggunakan “jeep” dalam bentuk lain, yakni amal ibadah yang ia lakukan di dunia dan berkat imannya kepada Tuhan. Lantunan suara Koes Hendratmo yang menyanyikan lagu You Raise Me Up pada Selasa (13/8) pukul 20.30 WIB di depan jenazah dan para pelayat dari berbagai kalangan mengiringi “perjalanan” ayah dua anak itu. Selamat jalan, Mas Kris. Requiescat in pace!


10:49 AM | 0 komentar | Read More

Kemenhuk dan HAM: Rusuh di Lapas Labuhan Ruku Spontan Terjadi






JAKARTA, KOMPAS.com - Kepala Humas Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Kementerian Hukum dan HAM Akbar Hadi menyampaikan bahwa kerusuhan yang terjadi di Lembaga Pemasyarakatan Labuhan Ruku, Sumatera Utara, Minggu (18/8/2013) sore, terjadi secara spontan. Kerusuhan pecah serta beberapa narapidana melarikan diri setelah menerobos pos keamanan dan melumpuhkan petugas jaga.

"Kejadian sekitar pukul 17.00, mereka spontan menerobos pos pengamanan dan melakukan penyerangan terhadap petugas serta melakukan pembakaran ruang KPLP dan ruang registrasi," kata Akbar saat dihubungi dari Jakarta, Minggu malam.

Akbar mengaku belum memeroleh informasi mengenai jumlah narapidana yang melarikan diri. Namun begitu, dia menyatakan bahwa ada narapidana yang melarikan diri setelah menerobos pos keamanan dan melompati pagar tembok lapas.

Saat kerusuhan pecah, lanjut Akbar, ada enam petugas yang sedang berjaga ditambah dua personel dari Polres setempat. Hingga Minggu malam, dua petugas lapas belum diketahui keadaannya dan diduga masih terjebak di dalam lapas tersebut.

Berdasarkan data yang dimiliki Akbar, Lapas Labuhan Ruku dihuni oleh 867 narapidana. Jumlah itu melebihi kapasitas daya tampung yang seharusnya hanya menampung maksimal 300 narapidana.

Saat ini, petugas di lokasi kerusuhan terus berupaya mengendalikan situasi dan melakukan koordinasi dengan pihak kepolisian, TNI, dan pemadam kebakaran. Komandan Kodim, Kapolres setempat dan Pelaksana Harian Kepala Lapas Labuhan Ruku berusaha bernegosiasi dengan para narapidana agar situasinya segera terkendali.

"Lokasi Lapas letaknya cukup jauh dan butuh waktu sekitar 45 menit dari Polres. Hingga saat ini kami belum dapat info adanya korban jiwa. Info terakhir kondisi Lapas Labuhan Ruku, seluruh gedung perkantoran terbakar, demikian juga dapur, dan Blok C," ujar Akbar.

Sebelumnya diberitakan, para napi di Lapas Labuhan Ruku ricuh dan mengakibatkan kebakaran lapas. Kepala Lapas Labuhan Ruku Sutopo Brutu mengatakan, kebakaran itu terjadi setelah puluhan narapidana melakukan kerusuhan di dalam lapas.

"Informasi yang saya terima, ada 49 napi pindahan yang kecewa karena tidak bisa dibesuk. Karenanya, mereka memprovokasi napi lain untuk berbuat kerusuhan," katanya.




Editor : Caroline Damanik
















10:26 AM | 0 komentar | Read More

BI Yakin Nilai Tukar Rupiah Membaik






JAKARTA, KOMPAS.com - Nilai tukar rupiah sudah menguat beberapa hari belakangan. Data per hari ini, nilai tukar berada di posisi Rp 9.929. Bank Indonesia (BI) yakin, rupiah terus akan menguat seiring dengan perbaikan ekonomi Amerika Serikat (AS).

"Meski ketidakpastian global masih tinggi, namun diperkirakan tekanan pada nilai tukar akan berkurang seiring dengan perbaikan ekonomi AS," jelas Direktur Departemen Komunikasi, Peter Jacobs, Jumat, (28/6/2013).

BI berharap, tingkat ekspor akan meningkat seiring perbaikan di negeri Paman Sam. Namun, untuk sementara ini, memang tekanan terhadap rupiah masih ada.

Oleh sebab itu, BI akan mementingkan langkah-langkah untuk menjaga stabilitas nilai tukar, moneter, dan makro ekonomi nasional. Namun, BI tidak akan menetapkan angka nilai tukar rupiah untuk bertahan di level nominal tertentu.

BI pun akan mengorbankan cadangan devisa untuk menjaga posisi nilai tukar. Peter bilang, BI tak akan menetapkan angka psikologis cadangan devisa sebesar US$ 100 miliar. Namun ia mengaku tak tahu berapa posisi cadev akhir bulan ini. Pada Mei kemarin, cadev Indonesia sudah menurun ke posisi US$ 105,149 miliar dari sebelumnya US$ 107,269 miliar di bulan April.

Menurut BI, posisi cadev saat ini masih cukup untuk mendukung stabilitas nilai tukar rupiah. "Karena jauh di atas kebutuhan standar internasional," sebut Peter.

Kemudian, bank sentral ini melihat adanya total outflow yang terjadi sebagai uang panas. Ini pun menurutnya lazim, melihat situasi perekonomian yang tidak pasti. Peter menyatakan posisi outflow sekarang cenderung menurun dan membuat nilai tukar Rupiah relatif stabil.

Untuk itu, BI juga berusaha untuk mengantisipasi kebutuhan likuiditas di pasar. Terlebih, adanya peningkatan kebutuhan valas untuk pembayaran utang luar negeri dan repatriasi keuntungan korporasi. Peningkatan ini umum terjadi di periode akhir bulan dan akhir semester.(Annisa Aninditya Wibawa)




Editor : Bambang Priyo Jatmiko













10:14 AM | 0 komentar | Read More

Polisi Sebar Sketsa Wajah Penembak Polisi di Pondok Aren





JAKARTA, KOMPAS.com - Polisi masih mencari pelaku penembakan dua anggota Polsek Pondok Aren, Bripka Ahmad Maulana (35) dan Aiptu Kus Hendratma (44). Untuk memudahkan pencarian, polisi sudah menyebar kedua sketsa wajah pelaku penembakan.


"Secara resmi sudah kami sebar ke publik," ujar Kabid Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Pol Rikwanto saat dihubungi, Minggu (18/8/2013).


Pelaku pertama (kiri) bertubuh gemuk, berkulit hitam, tinggi 170 cm. Rambutnya gondrong, hidungnya besar. Usianya diperkirakan 30 tahun. Saat kejadian, ia mengenakan jaket parasut berwarna hitam.


Pelaku kedua (kanan) bertubuh kurus, rambut ikal dan tipis. Tingginya 168 cm. Usianya diperkirakan 27 tahun. Saat melakukan aksinya, ia mengenakan kaus berkerah warna coklat.


Rikwanto mengatakan, hingga saat ini belum ada perkembangan signifikan terhadap penyelidikan kasus penembakan itu. "Doakan ya supaya cepat ketangkap," ujar Rikwanto.


Kus Hendratma ditembak orang tak dikenal di Jalan Graha Raya Bintaro, tepat di depan Masjid Bani Umar, Kelurahan Parigi Baru, Kecamatan Pondok Aren, Tangerang Selatan, Jumat (16/8/2013) pukul 22.00 WIB. Tim Buru Sergap Polsek Pondok Aren mengejar pelaku dengan mengendarai Toyota Avanza warna hitam.


Namun, pengejaran itu menyebabkan mobil Tim Buser terperosok ke got di pinggir jalan. Pelaku kemudian menembak Bripka Maulana yang baru keluar dari mobil. Setelah itu, sempat terjadi baku tembak. Pelaku kemudian melarikan diri dengan merampas sepeda motor bernomor polisi B 6620 SFS milik warga.





Editor : Laksono Hari Wiwoho


















10:05 AM | 0 komentar | Read More

Sekelumit Cerita Perempuan Pejuang, Sofyatun

Written By Unknown on Saturday, August 17, 2013 | 10:26 AM






JAKARTA, KOMPAS.com — Sofyatun Sayuti (69) adalah seorang perempuan veteran yang berjuang pada peristiwa Dwikora, yaitu masa konfrontasi Indonesia dan Malaysia. Saat itu, ia tergabung dalam pasukan pembantu tempur para pria pejuang pembela kemerdekaan.

"Saya dilatih tempur di sana. Sebelumnya, di Pusat Pendidikan Kesehatan (Pusdikes) Kramat Jati. Kalau yang bisa menjadi penyiar ya jadi penyiar radio, atau ditugaskan di rumah sakit, dan dapur umum," kata Sofyatun, saat dijumpai, Jumat (2/8/2013), di Gedung Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) DKI.

Sofyatun disiagakan untuk siap bertempur bersama para pria. Namun, sebelum ada dekrit dari presiden untuk berperang, meletus peristiwa G-30S PKI pada tahun 1965.

"Disiagakan untuk berperang. Kebetulan PKI punya ulah, sudah di perbatasan menunggu komando, di depan Pulau Sambu," kata Sofyatun.

Ia mengisahkan, selama menunggu komando untuk berperang, ia menjadi staf pengirim dana pangan untuk pasukan-pasukan di pulau-pulau wilayah perbatasan.

"Setiap tanggal 25 saya datang ke pulau-pulau untuk menge-drop keuangan," kata Sofyatun.

Meski hanya menjadi pejuang selama satu tahun, Sofyatun mengatakan, semangat dan disiplin militer terus terbawa hingga kini.

"Semangatnya, disiplinnya, kepengennya rumah harus rapi, karena dulu waktu keluar asrama ada kaca yang atasnya tertulis, 'sudah rapikah Anda hari ini'," kata Sofyatun sambil tersenyum.

Semangat itu terus dibawa Sofyatun hingga kini. Ia telah membentuk sebuah yayasan pendidikan tingkat SMP hingga SMA di daerah Pondok Aren pada tahun 1976.

"Saya punya karyawan 52 orang, beberapa tamatan S-2, padahal saya sendiri tamatan SMA," kata Sofyatun.




Editor : Inggried Dwi Wedhaswary


















10:26 AM | 0 komentar | Read More

BI Yakin Nilai Tukar Rupiah Membaik






JAKARTA, KOMPAS.com - Nilai tukar rupiah sudah menguat beberapa hari belakangan. Data per hari ini, nilai tukar berada di posisi Rp 9.929. Bank Indonesia (BI) yakin, rupiah terus akan menguat seiring dengan perbaikan ekonomi Amerika Serikat (AS).

"Meski ketidakpastian global masih tinggi, namun diperkirakan tekanan pada nilai tukar akan berkurang seiring dengan perbaikan ekonomi AS," jelas Direktur Departemen Komunikasi, Peter Jacobs, Jumat, (28/6/2013).

BI berharap, tingkat ekspor akan meningkat seiring perbaikan di negeri Paman Sam. Namun, untuk sementara ini, memang tekanan terhadap rupiah masih ada.

Oleh sebab itu, BI akan mementingkan langkah-langkah untuk menjaga stabilitas nilai tukar, moneter, dan makro ekonomi nasional. Namun, BI tidak akan menetapkan angka nilai tukar rupiah untuk bertahan di level nominal tertentu.

BI pun akan mengorbankan cadangan devisa untuk menjaga posisi nilai tukar. Peter bilang, BI tak akan menetapkan angka psikologis cadangan devisa sebesar US$ 100 miliar. Namun ia mengaku tak tahu berapa posisi cadev akhir bulan ini. Pada Mei kemarin, cadev Indonesia sudah menurun ke posisi US$ 105,149 miliar dari sebelumnya US$ 107,269 miliar di bulan April.

Menurut BI, posisi cadev saat ini masih cukup untuk mendukung stabilitas nilai tukar rupiah. "Karena jauh di atas kebutuhan standar internasional," sebut Peter.

Kemudian, bank sentral ini melihat adanya total outflow yang terjadi sebagai uang panas. Ini pun menurutnya lazim, melihat situasi perekonomian yang tidak pasti. Peter menyatakan posisi outflow sekarang cenderung menurun dan membuat nilai tukar Rupiah relatif stabil.

Untuk itu, BI juga berusaha untuk mengantisipasi kebutuhan likuiditas di pasar. Terlebih, adanya peningkatan kebutuhan valas untuk pembayaran utang luar negeri dan repatriasi keuntungan korporasi. Peningkatan ini umum terjadi di periode akhir bulan dan akhir semester.(Annisa Aninditya Wibawa)




Editor : Bambang Priyo Jatmiko













10:14 AM | 0 komentar | Read More

4.002 Sepeda Motor Belum Kembali dari Sumatera ke Jawa


Pemudik bersepeda motor menunggu giliran menaiki kapal feri di Pelabuhan Bakauheni, Lampung, Sabtu (10/8/2013). Hingga pukul 17.30, terdapat 34.963 penumpang dan 8.071 kendaraan yang menyeberang dari pelabuhan itu. Arus balik pemudik di pelabuhan tersebut mulai berlangsung dan diperkirakan mencapai puncaknya pada hari ini. | KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO



10:05 AM | 0 komentar | Read More

Dilecehkan, Natha Narita Larang Hessel Steven "Buat Perhitungan"

Written By Unknown on Friday, August 16, 2013 | 10:49 AM


Jakarta - Usai dirinya mengalami insiden pelecehan oleh karyawan sebuah restoran, penyanyi Natha Narita kemudian langsung menghubungi lelaki yang kini tengah dekat dengannya.


"Iya aku langsung laporan ke Hessel (Hessel Steven)," ujar Natha melalui sambungan telepon, Kamis (15/8).


Hessel Steven adalah seorang artis Indonesia yang saat ini tengah berkarier di Thailand sebagai bintang iklan. Beberapa iklan yang ditayangkan di Asia, dibintanginya.


"Hessel juga sempat kesal. Makanya minggu depan dia mau ke Indonesia. Katanya mau samperin karyawan di restoran itu," ujarnya.


Namun, Natha melarang Hessel untuk melakukan hal yang tidak diinginkannya.


"Aku bilang jangan macam-macam di Jakarta. Nyesel juga cerita ke dia," ujarnya.


Perihal Hessel, Natha mengaku tengah menjalin sebuah kedekatan. Tidak banyak yang mengetahui, bintang iklan internasional itu sering bolak balik Bangkok-Jakarta untuk menemui Natha.


"Ya, hubungan kami belum ada komitmen lebih jauh. Masih dekat saja," ujar Natha.


Natha mengenal Hessel saat ia melakukan operasi pembesaran payudara di Bangkok tahun lalu. Kebetulan salah satu teman yang mendampinginya mempertemukan Hessel dengan Natha di Bangkok.


"Setelah itu kami sering whatsApp dan berkomunikasi. Dia beberapa kali sering ke Jakarta untuk bertemu aku," ujarnya.


Seperti yang sudah diberitakan sebelumnya, Natha Narita alami pelecehan verbal di sebuah restoran yang dikenal dengan sajian donatnya beberapa waktu lalu, di kawasan Kelapa Gading, Jakarta Pusat.


Seorang karyawan restoran tersebut menyebutkan wilayah kewanitaannya dengan kata-kata yang tidak mengenakkan. Sampai-sampai ia menumpahkan minumannya ke karyawan restoran tersebut.


Namun, menurut Natha, karyawan restoran beserta manajernya sudah meminta maaf.


10:49 AM | 0 komentar | Read More

Dua Anggota Polisi Ditembak Orang Tidak Dikenal di Pondok Aren






JAKARTA, KOMPAS.com
— Aksi tebar teror terus mengintai anggota kepolisian. Jumat (16/8/2013) pukul 22.00 WIB, dua anggota kepolisian ditembak oleh orang tidak dikenal.

Informasi yang dihimpun Tribunnews.com di lapangan, diketahui penembakan terjadi di Jalan Graha Raya, depan Masjid Bani Umar, Kelurahan Prigi Baru, Kecamatan Pondok Aren.


Korban diketahui bernama Aiptu Kus Hendratno dan Bripka Ahmad Maulana, anggota Bimas Polsek Pondok Aren.


Saat ini keduanya dirawat di Rumah Sakit Premier Bintaro.





Editor : Wisnubrata







Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:











10:26 AM | 0 komentar | Read More
techieblogger.com Techie Blogger Techie Blogger